Jumat, 14 Juli 2017

CINTA SAHABAT KARENA ALLAH



Dena Auliana (8c)
Tugas Mata Kuliah Khasanah Sastra Islam
Dosen Pengampu : Trie Utari Dewi,M.Hum

CINTA SAHABAT KARENA ALLAH
Perasaan manusia memang tidak bisa di tebak apalagi di batasi, cinta dengan Tuhannya tentulah berbeda dengan cinta kepada sesamanya. “Kamu kenapa? Kenapa muka kamu sedih seperti itu” ujar Wayan. Persahabatan yang di bentuk sejak duduk di bangku Sekolah Dasar tumbuh menjadi perasaan lebih dari sekedar sahabat. “Aku gagal masuk Perguruan Tinggi Negri” Ujar Noni dengan muka murung sambil meminum jus di lapangan dekat rumah mereka. Selain bersahabat mereka berdua juga bertetangga. Noni tidak berfikir untuk menjalin hubungan lebih dari sahabat dengan Wayan, karena Noni berfikir tidak mungkin ia menjalin hubungan lebih dengan orang yang berbeda keimanan dengannya.
Wayan memang menaruh perasaan kepada Noni sejak SMA walaupun hanya satu Sekolah dasar tetapi persahabatan mereka tidak pernah putus. “Yasudah, yuk kita pergi nonton tapi sebelum itu kamu sholat dulu ya berdoa sama Allah untuk di berikan yang terbaik” ujar Wayan, walaupun Wayan seorang Hindu tetapi sejak kecil ia tumbuh di lingkungan mayoritas islam apalagi Almarhummah ibunya memang beragama islam. Iya, Waayan seorang piatu, tetapi kebaikan hati dan sikapnya membuat Noni membuka hatinya. “Iya Wayan nanti kerumah saja, ohiya ini ada kue titipan dari mama untuk nenek dan kakek kamu dirumah” ujar Noni. Selain itu kelarga mereka juga dekat dan saling toleransi.
“Besok Wayan mau nyepi ya Noni, tapi kalau Noni bosan di rumah Noni boleh kok keluar tapi hati-hati ya kalau ada yang menggoda Noni bilang Wayan pasti Wayan gak akan datang hahaha” begitulah celetukan Wayan yang sering membuat Noni tertawa. Setiap ada masalah mereka selalu saling membantu, memang tidak di pungkiri perasaan cinta sesama manusia itu tumbuh karena hawa nafsu yang memang di miliki umat manusia di seriap dunia. Mereka pun saling menyayangi satu sama lain. Sampai tiba saat rasa yang tidak terbendung lagi. Kala itu mereka sudah lulus Perguruan Tinggi “Noni ada hal yang ingin aku tanyakan, kalau dalam hideup Noni di berikan pilihan untuk pindah agama Noni akan pindah atau engga? Eh, udah gak usah dijawab Wayan lagi ngaco. Ya pasti gak akan boleh lah ya sama keluarga Noni, sama Wayan juga gak akan boleh.” Ujar Wayan sambil senyum senyum kecil. Noni hanya terdiam.
“Wayan, kakek Noni seorang Ustad dan sudah Haji apa nanti kata orang kalau cucunya pindah agama, dan terlebih lagi didalam hati dan pikiran Noni tidak pernah terlintas akan hal dan perbuatan akan pindah agama. Jika kita mencintai dan menyayangi seseorang kita harus iklas. Dan juga masalah agama kita harus ikhlas karena Allah bukan karena manusia itu sendiri. Karena agama Noni mengajarkan ‘Lakum Diinukum wa Liya Diin’ bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Jadi selama ini pun Noni sangat menghargai agama Wayan dan seharusnya sebaliknya bukan?” ujar Noni saat berjalan pulang. “Kalau saja mamah masih ada dan Wayan tidak di didik dengan kakek yang bekas tentara mungkin Wayan akan berani menata masa depan bersama Noni” ujar wayan sambil tertawa Noni hanya tersenyum menoleh ke arah Wayan. Sejak saat itu mereka hampir tidak bertemu sebulan lamanya tidak ada yang saling menghubungi satu sama lain.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LAA ILAA HA ILLA ALLAHU WAWLLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM gema takbir berkumandang malam itu, keesokannya lebaran Idul Fitri dua sahabat ini tetap bungkam tidak ada yang saling menyapa. “sepertinya aku kenal suara takbir yang berkumandang di masjid depan” Noni medengar suara itu sambil menyiapkan ketupat di meja makan. Dua hari setelah Idul Fitri Wayan datang kerumah Noni untuk meminta maaf Noni pun meminta maaf juga saat itu. Mulai saat itu mereka menyambung persahabatan lagi. “Noni kamu mendengar lafadz takbir pada malam takbiran itu gak?” ujar wayan sambil menyetir mobil untuk mengantar Noni yang kala waktu itu masuk kerja untuk pertama kalinya. “iya aku mndengarnya, tapi sepertinya aku sudah tau itu suara siapa. Suara kamu kan haha kamu kok bisa sih?” ujar Noni sambil tertawa. Wayan tidak menjawab pertanyaannya.
Setelah sampai di depan Bank tenpat Noni bekerja Wayan tidak membukakan pintu mobilnya dia tetap menguncinya. “Wayan buka dong kok masih terkunci begini sih!” ujar noni kesal. “kamu yakin mau aku buka, tapi jangan kaget ya” Ujar wayan sambil tertawa dan mengeluarkan kotak kecil berisi cincin “Itu memang suara takbir yang keluar dari mulutku, sejak sore itu kita berdebat aku berfikir dan mencari tahu lebih dalam lagi tentang agama kamu. Entah aku nyaman membaca dan menjalankannya. Setelah itu pak Ustad Firman membantuku untuk masuk agamamu. Iya, saat ini aku seorang musliman. Tapi aku ikhlas karena Allah aku cinta Kamu Noni karena allah juga. Jadi untuk urusan aku dengan keluarga ku sudah aku bereskan memang awalnya kakek mengusirku tapi semakin lama mereka semakin menerimaku. Terimakasih Noni sudah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Jadi bagaimana?” ujar Wayan menaruh harapan.
Seketika Noni langsung menangis tersedusedu tidak percaya melihat Wayan yang saat itu memang membuat dirinya terkejut. “Aku tidak bisa berkata-kata, tapi dari dalam lubuk hatiku aku selalu berdoa kepada Allah setiap malam untuk keluarga ku, ekerjaanku, dan jodohku dan saat ini Allah sudah mendengarkan doaku” ujar Noni sambil menangis. “tapi maukah kamu membimbingku? Aku memang belum bisa dan mampu menjadi imam saat ini tapi aku akan terus belajar dan berusaha untuk keluarga kecil kita nanti” ujar wayan “tentu saja aku mau Wayan tanpa kamu meminta pun aku akan memberi bimbingan sepenuhnya untuk kamu. Aku mau menikah denganmu aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu kelak” ujar noni. Saat itu menjadi hari yang membahagiakan untuk mereka, mereka pun menikah dengan agama yang seiman. Tanpa saling memaksakan dan menyakiti satu sama lain.
Juli 2017
Dena Auliana