Dena Auliana (8c)
Tugas Mata Kuliah Khasanah Sastra Islam
Dosen Pengampu : Trie Utari Dewi,M.Hum
CINTA SAHABAT KARENA ALLAH
Perasaan
manusia memang tidak bisa di tebak apalagi di batasi, cinta dengan Tuhannya tentulah
berbeda dengan cinta kepada sesamanya. “Kamu kenapa? Kenapa muka kamu sedih
seperti itu” ujar Wayan. Persahabatan yang di bentuk sejak duduk di bangku Sekolah
Dasar tumbuh menjadi perasaan lebih dari sekedar sahabat. “Aku gagal masuk
Perguruan Tinggi Negri” Ujar Noni dengan muka murung sambil meminum jus di
lapangan dekat rumah mereka. Selain bersahabat mereka berdua juga bertetangga.
Noni tidak berfikir untuk menjalin hubungan lebih dari sahabat dengan Wayan,
karena Noni berfikir tidak mungkin ia menjalin hubungan lebih dengan orang yang
berbeda keimanan dengannya.
Wayan
memang menaruh perasaan kepada Noni sejak SMA walaupun hanya satu Sekolah dasar
tetapi persahabatan mereka tidak pernah putus. “Yasudah, yuk kita pergi nonton
tapi sebelum itu kamu sholat dulu ya berdoa sama Allah untuk di berikan yang
terbaik” ujar Wayan, walaupun Wayan seorang Hindu tetapi sejak kecil ia tumbuh
di lingkungan mayoritas islam apalagi Almarhummah ibunya memang beragama islam.
Iya, Waayan seorang piatu, tetapi kebaikan hati dan sikapnya membuat Noni
membuka hatinya. “Iya Wayan nanti kerumah saja, ohiya ini ada kue titipan dari
mama untuk nenek dan kakek kamu dirumah” ujar Noni. Selain itu kelarga mereka
juga dekat dan saling toleransi.
“Besok
Wayan mau nyepi ya Noni, tapi kalau Noni bosan di rumah Noni boleh kok keluar
tapi hati-hati ya kalau ada yang menggoda Noni bilang Wayan pasti Wayan gak
akan datang hahaha” begitulah celetukan Wayan yang sering membuat Noni tertawa.
Setiap ada masalah mereka selalu saling membantu, memang tidak di pungkiri
perasaan cinta sesama manusia itu tumbuh karena hawa nafsu yang memang di
miliki umat manusia di seriap dunia. Mereka pun saling menyayangi satu sama
lain. Sampai tiba saat rasa yang tidak terbendung lagi. Kala itu mereka sudah
lulus Perguruan Tinggi “Noni ada hal yang ingin aku tanyakan, kalau dalam
hideup Noni di berikan pilihan untuk pindah agama Noni akan pindah atau engga?
Eh, udah gak usah dijawab Wayan lagi ngaco. Ya pasti gak akan boleh lah ya sama
keluarga Noni, sama Wayan juga gak akan boleh.” Ujar Wayan sambil senyum senyum
kecil. Noni hanya terdiam.
“Wayan,
kakek Noni seorang Ustad dan sudah Haji apa nanti kata orang kalau cucunya
pindah agama, dan terlebih lagi didalam hati dan pikiran Noni tidak pernah
terlintas akan hal dan perbuatan akan pindah agama. Jika kita mencintai dan
menyayangi seseorang kita harus iklas. Dan juga masalah agama kita harus ikhlas
karena Allah bukan karena manusia itu sendiri. Karena agama Noni mengajarkan ‘Lakum Diinukum wa Liya Diin’ bagiku
agamaku dan bagimu agamamu. Jadi selama ini pun Noni sangat menghargai agama
Wayan dan seharusnya sebaliknya bukan?” ujar Noni saat berjalan pulang. “Kalau
saja mamah masih ada dan Wayan tidak di didik dengan kakek yang bekas tentara
mungkin Wayan akan berani menata masa depan bersama Noni” ujar wayan sambil
tertawa Noni hanya tersenyum menoleh ke arah Wayan. Sejak saat itu mereka
hampir tidak bertemu sebulan lamanya tidak ada yang saling menghubungi satu
sama lain.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR LAA ILAA HA ILLA ALLAHU WAWLLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAM gema
takbir berkumandang malam itu, keesokannya lebaran Idul Fitri dua sahabat ini
tetap bungkam tidak ada yang saling menyapa. “sepertinya aku kenal suara takbir
yang berkumandang di masjid depan” Noni medengar suara itu sambil menyiapkan
ketupat di meja makan. Dua hari setelah Idul Fitri Wayan datang kerumah Noni
untuk meminta maaf Noni pun meminta maaf juga saat itu. Mulai saat itu mereka
menyambung persahabatan lagi. “Noni kamu mendengar lafadz takbir pada malam
takbiran itu gak?” ujar wayan sambil menyetir mobil untuk mengantar Noni yang
kala waktu itu masuk kerja untuk pertama kalinya. “iya aku mndengarnya, tapi
sepertinya aku sudah tau itu suara siapa. Suara kamu kan haha kamu kok bisa
sih?” ujar Noni sambil tertawa. Wayan tidak menjawab pertanyaannya.
Setelah
sampai di depan Bank tenpat Noni bekerja Wayan tidak membukakan pintu mobilnya
dia tetap menguncinya. “Wayan buka dong kok masih terkunci begini sih!” ujar
noni kesal. “kamu yakin mau aku buka, tapi jangan kaget ya” Ujar wayan sambil
tertawa dan mengeluarkan kotak kecil berisi cincin “Itu memang suara takbir
yang keluar dari mulutku, sejak sore itu kita berdebat aku berfikir dan mencari
tahu lebih dalam lagi tentang agama kamu. Entah aku nyaman membaca dan
menjalankannya. Setelah itu pak Ustad Firman membantuku untuk masuk agamamu.
Iya, saat ini aku seorang musliman. Tapi aku ikhlas karena Allah aku cinta Kamu
Noni karena allah juga. Jadi untuk urusan aku dengan keluarga ku sudah aku
bereskan memang awalnya kakek mengusirku tapi semakin lama mereka semakin
menerimaku. Terimakasih Noni sudah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Jadi
bagaimana?” ujar Wayan menaruh harapan.
Seketika
Noni langsung menangis tersedusedu tidak percaya melihat Wayan yang saat itu
memang membuat dirinya terkejut. “Aku tidak bisa berkata-kata, tapi dari dalam
lubuk hatiku aku selalu berdoa kepada Allah setiap malam untuk keluarga ku,
ekerjaanku, dan jodohku dan saat ini Allah sudah mendengarkan doaku” ujar Noni
sambil menangis. “tapi maukah kamu membimbingku? Aku memang belum bisa dan
mampu menjadi imam saat ini tapi aku akan terus belajar dan berusaha untuk
keluarga kecil kita nanti” ujar wayan “tentu saja aku mau Wayan tanpa kamu
meminta pun aku akan memberi bimbingan sepenuhnya untuk kamu. Aku mau menikah
denganmu aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu kelak” ujar noni. Saat itu
menjadi hari yang membahagiakan untuk mereka, mereka pun menikah dengan agama
yang seiman. Tanpa saling memaksakan dan menyakiti satu sama lain.
Juli 2017
Dena Auliana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar